Pengertian-Pengertian Dasar Audit



Pengertian-Pengertian Dasar Audit
§  AUDIT
Tindakan membandingkan keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya (Kondisi vs Kriteria)
§  PENGAWASAN
Langkah-langkah untuk meyakinkan apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan tujuan atau rencana yang telah ditetapkan.
§  PENGENDALIAN
            Pengawasan + tindak lanjut

Audit/pemeriksaan: Tindakan membandingkan keadaan yang sebenarnya (KONDISI) dengan keadaan yang seharusnya (KRITERIA).
Contoh :
      Guru memeriksa pekerjaan murid-muridnya
      Dokter memeriksa pasien
      Ibu rumah tangga memeriksa apakah beras yang dimasaknya sudah matang    apa belum

Kondisi vs Kriteria
  • Untuk dapat memeriksa/mengaudit, seseorang harus mengetahui bagaimana keadaan yang seharusnya (KRITERIA) dan bagaimana keadaan sebenarnya (KONDISI)
  • Contoh: seorang guru yang akan memeriksa pekerjaan murid-muridnya, maka ia harus mengetahui jawaban yang tepat dari soal-soal yang diberikannya sehingga ia dapat menilai apakah hasil pekerjaan murid-muridnya itu benar atau salah.
  • Auditor harus mengetahui terlebih dahulu setiap kriteria mengenai permasalahan yang akan diaudit sebelum ia melakukan audit, sehingga waktunya tidak akan banyak terbuang untuk mencari dan memahami kriteria.
  • Auditor tidak selalu mempunyai kewenangan melakukan tindak lanjut.
  • Auditor yang tidak mempunyaikewenangan tindak lanjut adalah auditor fungsional.
  • Auditor fungsional tersebut tidak boleh melakukan tindak lanjut, sebab apabila demikian dia sudah mencampuri urusan pelaksnaan.
  • Kedudukan auditor pengawas fungsional sebagai orang-orang yang menjalankan fungsi staf dan bukan fungsi lini (pelaksanaan).

Sejarah Audit
  • Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa audit yang dilaksanakan oleh para auditor fungsional telah dilakukan sejak zaman kuno
  • Istilah audit bermula dari perkataan “audere” yang diserap ke dalam bahasa Inggris, yang mempunyai arti mendengarkan dan juga mempunyai arti memeriksa
  • Sejak abad 19 dan terlebih-lebih abad ke-20, ilmu audit telah berkembang pesat dan diperdalam, baik oleh para akuntan publik, auditor intern, maupun    lingkungan perguruan tinggi.

Syarat-Syarat Auditor Fungsional

1. AHLI

    • Mempunyai keahlian mengenai AUDIT dan menguasai masalah-masalah yang diaudit

                   Keahlian dalam mengaudit :
              –      Auditor harus mendalami Teknik audit, prosedur audit serta  
                   segala hal yang berkaitan dengan cara audit dilakukan.
              –      Pendidikan dan latihan dalam bidang audit maupun pengalaman 
                   harus dijalaninya secara mencukupi.
    • Keahlian dalam masalah yang diauditnya

             – Pengetahuan mengenai masalah yang diaudit akan sangat 
                  membantu auditor untuk melakukan penilaian yang sebaik-
                  baiknya
             –   Akan lebih baik apabila pengetahuan semacam itu sudah 
                  sudah diperoleh sebelum ia melaksanakan tugasnya
             –   Maka diperlukan usaha untuk mengumpulkan pengetahuan atau 
                  pengalaman mengenai masalah-masalah yang berkaitan 
                  dengan kegiatan yang diaudit
             –   Latar belakang pendidikan auditor, umpamanya bidang 
                  hukung, bidang Teknik, bidang ekonomi perusahaan dan bidang 
                  lainnya.

 2. INTEGRITAS
  • Mempunyai kepribadian yang dilandasi unsur jujur, berani, bijaksana dan bertanggung jawab sehingga menimbulkan rasa hormat bagi orang lain
  • Kejujuran dalam integritas merupakan hal yang sangat penting, mengingat seorang auditor adalah seorang yang melakukan penilaian atas pekerjaan/kegiatan orang lain. Dari dirinya diharapkan sifat jujur sehingga hasil pekerjaannya tidak diragukan orang. Auditor tidak boleh memutar baikkan fakta, yang baik harus dikatakan baik, demikian pula yang buruk harus dikatakan buruk.
  • Keberanian dituntut dari seorang auditor dalam menjalankan tugas dan mengemukakan pendapatnya. Ia adalah orang yang tidak dapat diintimidasi oleh pihak yang diaudit atau orang lain dan ia tidak akan tunduk pada tekanan-tekanan yang dilakukan oleh siapapun yang dapat mempengaruhi hasil auditnya.
  • Bijaksana: auditor harus bisa menimbang segala permasalahan berikut akibat-akibatnya dengan memperhatikan ketentuan/peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Bertanggung jawab: bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya, termasuk tindakan agar pekerjaannya dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Unsur bertanggung jawab ini harus Nampak pula dalam hasil-hasil pekerjaan audit  yang dicerminkan dari kualitas dan kelengkapan hasil auditnya.

 3. OBJEKTIF
  • Mempunyai sikap dan pandangan yang objektif, yakni sikap mental  yang tidak memihak dan mengemukakan pendapat secara wajar sesuai dengan keadaan sebenarnya yang dijumpainya selama pemeriksaan
  • Seseorang dikatakan obyektif apabila pendapat yang dikemukakannya menyatakan dengan wajar dan sebenarnya tentang keadaan yang dijumpai selama audit dengan tidak memandang apakah yang bersangkutan adalah pejabat tinggi atau pegawai biasa.
  • Pengertian obyektif harus dibedakan dengan pengertian independent di dalam struktur organisasi. Pengertian independent adalah keadaan dimana secara organisatoris pihak yang bersangkutan tidak terkait kepada bagian  atau kekuasaan tertentu, sebagai contoh :
    • Bagian auditor intern  pada suatu perusahaan dikatakan independent dari bagian penjualan atau bagian pembelian, demikian pula inspektorat jendral dikatakan independent terhadap direktorat atau kantor-kantor yang diauditnya. Namun apakah yang bersangkutan juga obyektif adalah masalah lain yang kiranya perlu diperhatikan lebih lanjut.
4. KUALITAS KEPRIBADIAN
Auditor harus memiliki kualitas kepribadian tertentu seperti :
  • Rasa ingin tahu yang tinggi mengenai permasalahan yang dihadapinya
  • Gigih dalam memecahkan masalah dan tegar dalam menghadapi setiap cobaan
  • Sopan santun
  • Cara berpakaian dan penampilan yang dapat memberikan kesan baik kepada orang lain maupun kepada pihak yang diaudit.
  • Kesegaran sudut pandang
  • Kejernihan cara berpikir dan daya analisis.
  • Sikap tenang
  • Pandai berbicara
  • Mempunya rasa humor
  • Mudah bergaul diberbagai lingkungan
  • Ketelitian dalam melaksanakan pekerjaan sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memberikan pendapat dan menyimpulkan hasil audit..

Ruang Lingkup Audit
  • Audit atas keuangan, termasuk penilaian ketaatan pada peraturan
  • Audit atas efisiensi dalam penggunaan sarana yang tersedia dan atas efektifitas pencapaian hasil program
  • Audit khusus, contohnya audit atas adanya indikasi kecurangan (fraud)
  • Audit atas kewajaran penyajian Laporan Keuangan
Untuk dapat melaksanakan fungsi pemeriksaan dengan baik perlu dibentuk suatu unit organisasi yang sesuai dengan tugas atau misi yang diperlukannya yaitu unit audit Intern.
     Unit Audit Intern
  • Merupakan bagian dari suatu organisasi yang dimaksudkan untuk melakukan audit dengan mengevaluasi fungsi-fungsi pelaksanaan lainnya
  • Para auditor intern adalah pegawai suatu entitas/organisasi yang ditunjuk dan bertanggungjawab kepada pimpinan organisasi unit audit intern
  • Unit audit intern harus lepas dari fungsi pelaksanan/ operasi sehingga dapat menjadi alat bagi pimpinan dan bebas dalam menilai pelaksanaan tugas bagian-bagian lainnya.
  • Unit audit intern dalam struktur organisasi memerankan fungsi staf

Unit Audit Ekstern

  • Suatu unit organisasi audit yang berada di luar organisasi yang diaudit.
  • Contohnya adalah Akuntan Publik, BPKP dan BPK, ditinjau dari instansi yang diauditnya merupakan unit audit ekstern.
Paradigma Baru Internal Auditor
      Harapan Auditee :
  1. Solusi atas masalah yang dihadapi auditee
  2. Jaminan bahwa kegiatan yang dilakukan auditee adalah benar
  3. Rekomendasi untuk peningkatan efisiensi dan efektifitas operasi maupun administrasi
  4. Menjaga martabat


     Parameter Efektifitas Internal Auditor

  1. Rekomendasinya ditindaklanjuti
  2. Kehadirannya dirindukan
  3. Ada karena suatu kebutuhan bukan sekedar keharusan
  4. Mitra konsultansi eksternal auditor, komite audit dan auditee

Tantangan Auditor Internal

  • Tidak adanya/kurang adanya dukungan top mgt
  • Kolusi
  • Hubungan emosi dengan auditee
  • Pilihan antara azas ketaatan dengan manfaat
  • Pilihan antara mempertahankan objektifitas dan integritas dihadapkan dengan “loyalitas”

Powered by Blogger.